Hal yang paling menggairahkan tentang puisi adalah sekali kau benar-benar masuk ke dalamnya maka kau takkan pernah menemukan jalan keluar.
(Rey Prameshwara)

Rabu, 15 Januari 2014

Kotak Merah Jambu


sebentar-sebentar angin datang mengelus rambutnya
dia yang duduk menanti di bangku kayu
kotak merah jambu di pangkuannya
di kulitnya melekat kenangan biru
dari kabut sedesah lara disesapnya
pada angin ditebarnya hablur-hablur rindu
pada takdir dilarungnya penantian
penantian yang setia dicumbu waktu
seperti dia yang berjanji pada kesunyian
untuk menanti hujan yang haru
hujan yang akan tuntas membekukan
kotak merah jambu dipangkuannya



ditulis oleh Rey Prameshwara
Baca seutuhnya...>>>

Senin, 04 November 2013

November Dalam E Minor


Penghujung tahun yang masih saja tak berubah
Awet terjaga dalam bingkai musim penghujan
Dan dingin yang mengetuk-ngetuk kaca jendela
Masih memanggilku yang terjaga di pembaringan

Hujan selalu setia bercerita
Melalui bulir-bulir kenangan
Yang dihamburkannya di hutan,
Di taman, di sepanjan jalan,
Juga di dadaku yang renta

Biar kutadah semua cerita
Hingga meluapi rongga dada
Hingga meruah di bola mata
Mengalir jadi untai-untai do’a

Aku tak ingin menggebah kenangan
Biarlah ia datang padaku seperti laron yang selalu merindu cahaya
Ataukah aku didatangi seperti pantai yang padanya ombak selalu bersua

Sering juga kupanggil gerombolan ingatan
Sekadar menemaniku menyesap secangkir puisi
Sambil bercerita tentang lukisan di dinding
Yang diwarnai dengan mataku yang sepi

Penghujung tahun yang masih saja tak berubah
Masih semerbak wangi yang dulu tertitip di dadaku



ditulis oleh Rey Prameshwara
Baca seutuhnya...>>>

Sabtu, 02 November 2013

Tentang Malam Kita



1/
Di tengah malam pintumu kuketuk:
“Biar kugantungkan bulan di langit-langit bilikmu!”

Di telingaku jawabanmu mengutuk:
“Aku mencintai kelam yang terbaring di lantai bilikku!”
2/
Lalu mengapa kini kau di sini?
Unggun api ini untukku sendiri.
Ditingkahi tarian lidah api,
kuterangi bait-bait puisi.
Tapi untukku sendiri;
denganmu aku tak berbagi
3/
Baiklah kalau kuizinkan sebentar kau berdiam.
Sedikit hangat dan cahaya dari perapian
mungkin bisa menerangi matamu yang hitam.
Sebentar saja. Hanya sampai unggun ini padam.
Hanya sampai puisi ini kutuntaskan.
4/
Bila nanti telah usai ini puisi,
biarkan saja api unggunnya padam.
Karena tak lagi kita butuh hangatnya
untuk mengeja bait-bait puisi.

Kita lalu hanya akan beranjak pergi
menyusuri keterasingan malam kita masing-masing.
Kau cumbui malammu sendiri.
Sedang malamku digigiti hening.




ditulis oleh Rey Prameshwara
Baca seutuhnya...>>>

Jumat, 18 Oktober 2013

Dua Puisi yang Harus Dilupakan



1.
Bukankah kau yang menulisku?
dari untai-untai kata kaujalin:
rambutku hitam kusam
dari untai-untai rima kau sulam:
tubuhku yang dingin
hingga mataku ungu membeku

Bukankah kau yang menulisku?
maka biarkan aku bersuka cita
di tempat yang untukku dulu kaupilih:
temaram sudut kamar tersisih
berselimut debu waktu yang kian renta
di antara ratusan yang lain sajakmu

2.
Bila kini mata kata-kataku
tak lagi bisa berpadu
Bila kini bibir rima-rimaku
tak lagi bisa memerdu
Bila kini hati bait-baitku
tak lagi bisa merindu
Jangan pernah lagi membacaku
Cukuplah kau kenang jika dulu
kau pernah menulisku



ditulis oleh Rey Prameshwara
Baca seutuhnya...>>>

Minggu, 13 Oktober 2013

La Casa



duduklah di sampingku
di sini anginnya sejuk
dan boleh kau ceritakan
kisah dari buku masa kecilmu:
'Hang On a Minute Mate'
atau biar kuceritakan tentang sebuah rumah:
rumah yang teduh
di tepi telaga di matamu
aku ingin tinggal di rumah itu



ditulis oleh Rey Prameshwara
Baca seutuhnya...>>>