Hal yang paling menggairahkan tentang puisi adalah sekali kau benar-benar masuk ke dalamnya maka kau takkan pernah menemukan jalan keluar.
(Rey Prameshwara)

Sabtu, 02 November 2013

Tentang Malam Kita



1/
Di tengah malam pintumu kuketuk:
“Biar kugantungkan bulan di langit-langit bilikmu!”

Di telingaku jawabanmu mengutuk:
“Aku mencintai kelam yang terbaring di lantai bilikku!”
2/
Lalu mengapa kini kau di sini?
Unggun api ini untukku sendiri.
Ditingkahi tarian lidah api,
kuterangi bait-bait puisi.
Tapi untukku sendiri;
denganmu aku tak berbagi
3/
Baiklah kalau kuizinkan sebentar kau berdiam.
Sedikit hangat dan cahaya dari perapian
mungkin bisa menerangi matamu yang hitam.
Sebentar saja. Hanya sampai unggun ini padam.
Hanya sampai puisi ini kutuntaskan.
4/
Bila nanti telah usai ini puisi,
biarkan saja api unggunnya padam.
Karena tak lagi kita butuh hangatnya
untuk mengeja bait-bait puisi.

Kita lalu hanya akan beranjak pergi
menyusuri keterasingan malam kita masing-masing.
Kau cumbui malammu sendiri.
Sedang malamku digigiti hening.




ditulis oleh Rey Prameshwara
Baca seutuhnya...>>>

Jumat, 18 Oktober 2013

Dua Puisi yang Harus Dilupakan



1.
Bukankah kau yang menulisku?
dari untai-untai kata kaujalin:
rambutku hitam kusam
dari untai-untai rima kau sulam:
tubuhku yang dingin
hingga mataku ungu membeku

Bukankah kau yang menulisku?
maka biarkan aku bersuka cita
di tempat yang untukku dulu kaupilih:
temaram sudut kamar tersisih
berselimut debu waktu yang kian renta
di antara ratusan yang lain sajakmu

2.
Bila kini mata kata-kataku
tak lagi bisa berpadu
Bila kini bibir rima-rimaku
tak lagi bisa memerdu
Bila kini hati bait-baitku
tak lagi bisa merindu
Jangan pernah lagi membacaku
Cukuplah kau kenang jika dulu
kau pernah menulisku



ditulis oleh Rey Prameshwara
Baca seutuhnya...>>>

Minggu, 13 Oktober 2013

La Casa



duduklah di sampingku
di sini anginnya sejuk
dan boleh kau ceritakan
kisah dari buku masa kecilmu:
'Hang On a Minute Mate'
atau biar kuceritakan tentang sebuah rumah:
rumah yang teduh
di tepi telaga di matamu
aku ingin tinggal di rumah itu



ditulis oleh Rey Prameshwara
Baca seutuhnya...>>>

Jumat, 13 September 2013

Penjaga Makam


pada pohon kamboja tua dia bersandar
duduk di antara nasib yang layu mekar
di genggamannya: waktu berpendar
di matanya: matahari memudar

baginya makam adalah rumah
di mana semua cemin akan pecah
dari tiap cawan tuak akan tumpah
lalu merdu lagu tinggal desah

telah disaksikannya berlaksa pemakaman
dengan lantunan tawa dari tangisan
juga gerombolan jam dinding yang berjalan
menjauh menunduk mendongak selepas pemakaman

lalu dia kembali bersunyi
menyeka nasibnya sendiri

diam-diam dibersihkannya pusara-pusara
dari rumput liar dan ingatan yang baru lahir
"di sini sudah terlalu banyak kamboja
pemakaman ini tak butuh lagi anyelir"



ditulis oleh Rey Prameshwara
Baca seutuhnya...>>>

Minggu, 25 Agustus 2013

Lilin di Kamar



seringkali, N, ingin kutahu
masihkah jua tatapanmu sendu?
karena mataku erat-rapat kau pejamkan.
tetap saja, N, seperti dulu
di kamar ini tanpa setahumu
cahaya lilin berkejaran dengan bayangan.



ditulis oleh Rey Prameshwara
Baca seutuhnya...>>>